Minggu, 14 April 2013

Tugas Individual Paedagogi: Wawancara Pengajar


BAB I
PENDAHULUAN
Permasalahan pendidikan di Indonesia adalah catatan hitam yang sulit dihapus dan pada akhirnya akan menjadi cover di setiap hamparan historis Indonesia. Program sekolah 12 tahun yang digalakkan pemerintah tidak terjangkau di semua daerah. Bahkan beberapa daerah yang berlokasi di pedalaman belum pernah mengecap pendidikan dasar. Sudah seharusnya ini menjadi perhatian kita sebagai generasi muda intelek untuk berpikir kritis dan mencari solusi dalam masalah ini.
Hal inilah yang mendasari Anis Baswedan, rektor Universitas Primadina, membuat program Indonesia Mengajar yang terdiri atas pengajar-pengajar muda yang dikirimkan untuk mengajar di daerah-daerah pedalaman. Dalam workshop-nya di Auditorium USU pada tahun 2013, Anis mengatakan, pendidikan di Indonesia bertujuan untuk mendorong melahirkan generasi-generasi intelek yang bisa meningkatkan peradaban bangsa secara kognitif dan bermoral.
Pengajar memberi andil besar dalam membangun peradaban bangsa. Tanpa mereka, tak akan pernah kita tahu bagaimana cara menggunakan angka-angka, serta berperilaku yang baik. Di rumah, orangtua adalah pengajar pertama bagi anak-anaknya. Peran orangtua sebagai pengajar menjadi fondasi awal dalam pembentukkan karakter anak. Peran guru di sekolah juga sama pentingnya. Mereka bertanggung jawab atas pengembangan karakter anak yang diasuhnya. Setiap yang guru ajarkan tentulah akan ditiru oleh muridnya di kehidupan sehari-hari.
Selain sebagai pengajar, peran guru juga sebagai pedamping bagi murid-muridnya. Mereka juga mengajar, mengayomi, mengasuh, dan membina. Seperti pepatah Sekolah adalah rumah kedua bagi murid. Dan guru adalah orangtua di sekolah.
Dalam mengajar, dibutuhkan kompetensi yang baik pada ilmu yang diajarkannya. Sehingga ketika ada pertanyaan yang datang dari murid, guru mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan maksimal serta tidak ada kejanggalan atas jawaban dari murid yang bertanya. Namun, setelah ditelusuri lebih lanjut oleh peneliti di dunia pendidikan, ternyata guru tak hanya harus memiliki kompetensi yang dimiliki dalam mengajar. Hassett (dalam bukunya Danim, 2010) mengatakan, guru yang berkualitas tak hanya berkaitan dengan pengetahuan yang luar biasa. Guru juga harus dituntut mampu berkomunikasi dengan baik kepada muridnya. Komunikasi yang baik mempermudah seseorang dalam menerima informasi dan juga tidak membuat murid bosan dalam mendengar penjelasan guru
Menjadi sebuah pertanyaan bagi kita bagaimana sebenarnya guru yang baik dalam mengajar. Hal inilah yang mendorong peneliti melakukan wawancara terhadap salah seorang guru yang aktif mengajar di salah satu sekolah swasta di kota Medan.


BAB II
HASIL WAWANCARA
a.        Identitas Guru
Nama pengajar/inisial                         : R.A.
Jenis kelamin                                       : Perempuan
Lokasi mengajar                                  : Harapan 3 dan Al-Fithiyan
Bidang yang diajarin                           : Matematika dan bahasa Inggris
Tempat dan tanggal wawancara         : Rumah Cahaya, sekretariat FLP, 10 April 2013
Durasi wawancara                               : 13 menit 57 detik
b.        Uraian Hasil Wawancara
Wawancara dilakukan pada pukul 11.05 WIB pada tanggal 10 April 2013. Sebelumnya R.A. pernah mengajar di beberapa privat. Pengalamannya sebagai guru les privat mengantarkannya menjadi guru di sekolah Harapan 3 dan Al-Fithiyan. Berikut uraian hasil wawancaranya:

1.      Bagaimana pandangan guru tentang pendidikan?
Guru di dalam dunia pendidikan tidak hanya sebagai pengajar. Namun, juga sebagai pembina yang bisa memposisikan diri sebagai teman. Sehingga hal ini mempermudah guru dalam mengetahui karakter siswa.
2.      Apa motivasi yang mendasari menjadi guru?
Terdapat kepuasan tersendiri dalam mengajar. Salah satu kepuasan yang didapat dalam mengajar adalah ketika murid paham atas apa yang telah disampaikan oleh guru. Hal itu menjadi motivasi bagi guru untuk terus mengajar pada murid-muridnya.
3.      Bagaimana sudut pandangnya sebagai guru dalam melihat peserta didik?
Dalam melihat peserta didik tentulah terdapat kenakalan murid yang sering dilakukan di sekolah. Biasanya mereka bandel pada anak-anak umumnya. Kebetulan di sekolah yang saya ajar murid-muridnya masih bandel-bandel yang wajar. Selain itu, ada juga peserta didik yang memiliki sifat kritis. Hal-hal yang seperti itu yang membuat saya senang. Karena terjadi komunikasi dua arah antara guru dengan murid ketika guru mengajarkan.
4.      Bagaimana tanggapannya bila memiliki murid yang bandel?
Seperti yang dibilang, kebetulan di sekolah murid-muridnya hanya bandel yang wajar. Kalaupun ada itu pun diberikan hukuman, walau sebenarnya itu tidak baik. Mungkin lebih tepatnya diberi konsekuensi logis.
5.      Apa filosofi dalam mengajar?
Saya ingin dalam belajar-mengajar itu lebih manusia. Tidak harus memaksakan siswa dalam belajar itu harus bisa menguasai apa yang telah diajarkan. Karena karakter atau kecerdasan anak itu unik. Sehingga tak bisa dipaksakan harus mengetahui apa yang telah disampaikan.
6.      Apa pendekatannya dalam mengajar?
Biasanya berusaha untuk melakukan pendekatan yang berbeda-beda pada tiap bab pelajaran. Sehingga murid tidak bosan dalam menerima pelajaran.
7.      Guru yang ideal dan baik itu seperti apa?
Guru yang ideal itu ialah guru yang menguasai apa yang diajarkannya. Juga mampu membuat suasana kelas menjadi hidup. Sehingga murid-murid tidak bosan atas apa yang diajarkan. Dan juga murid merasa rugi apabila tidak memperhatikan guru dengan baik. Walaupun sebenarnya tidak tahu bagaimana caranya.


BAB III
PEMBAHASAN
Mengajar yang Baik
Mengajar bermakna memberi petunjuk atau informasi, pengalaman, pengetahuan kepada subjek yang diajarkannya. Singkatnya, mengajar merupakan proses tindakan mentransfer ilmu pengetahuan dengan tujuan yang dikehendaki. Biasanya media yang digunakan oleh pengajar adalah papan tulis, kertas, alat-alat elektronik terkini dan media lain yang mampu menunjang proses belajar-mengajar.
Dalam menunjang pemahaman siswa dalam menerima informasi, diperlukan juga hal-hal seperti ini:
1.      Memfasilitasi peluang belajar
2.      Menata lingkungan edukatif
3.      Memotivasi belajar
4.      Menangkap pikiran dan hati
5.      Membangun keaktifan belajar
Kelima hal di atas dapat membangun suasana belajar aman dan nyaman bagi murid dalam menerima pengetahuan dari gurunya. Kak A.R. dalam hal ini pengajar di sekolah Harapan 3 dan Al-Fithiyan memiliki kelima kompetensi tersebut.
Berdasarkan wawancara dengan Kak A.R. bahwa beliau memfasilitasi peluang belajar pada siswa. Hal ini dibuktikan dengan dibukanya les privat bagi murid-murid yang belum mengerti tentang segala pelajaran yang didapat di sekolah. Karena muridnya masih berada di bangku dasar, ia menyanggupi membuka les di setiap mata pelajaran. Sehingga ini memberi peluang bagi murid-murid yang belum mengerti dapat mengejar ketertinggalannya dengan murid-murid lain yang sudah mengerti.
Dalam menata lingkungan yang edukatif, beliau juga meminta pada murid-muridnya untuk selalu menjaga kebersihan kelas. Kebersihan kelas mampu memaksimalkan belajar murid menjadi nyaman. Walau tidak ada dalam uraian hasil wawancara, informasi ini didapat pada ngobrol-ngobrol santai pasca wawancara.
Sebagai guru yang merangkap peran sebagai guru sekaligus teman, A.R. diyakini mampu memotivasi serta menangkap pikiran dan hati murid-muridnya. Dengan setiap kelas berisikan 20 murid (jumlah kelas yang ideal), tak sulit bagi A.R. untuk memberikan motivasi serta membangun intimacy atau kedekatan dengan murid-muridnya. Hal ini ditandai dengan rasa ketertarikannya pada pendapat bahwa setiap murid memiliki karakteristik yang unik. Sehingga A.R. mencoba lebih memahami gaya belajar yang cocok untuk setiap muridnya.
Dalam membangun keaktifan belajar menjadi modal penting bagi seorang guru agar suasana kelas tidak pasif. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi setiap guru bagaimana membangun keaktifan belajar para muridnya. Sebagai guru matematika, tentu banyak pertanyaan yang muncul bila ada soal yang tak dimengerti. A.R. selalu bertanya pada duluan kepada murid-muridnya apabila terdapat soal atau rumus matematika yang tak dipahami. Hal ini membuat suasana kelas menjadi dua arah dan tidak cenderung mononton.
Pendidikan Humanis
            Dalam dunia belajar-mengajar sudah seharusnya seorang guru tidak memaksa kehendak agar muridnya memahami apa yang diajarkannya. Guru semestinya berpikir untuk ikut mengkonfirmasi keaslian pemikiran siswa. Guru tidak bisa berpikir sendiri untuk anak didiknya atau memaksakan pikirannya pada mereka. Hal ini senada dengan filosofi dari Kak A.R. yang mengatakan bahwa dalam belajar-mengajar itu ingin lebih manusia. Tidak harus memaksakan siswa dalam belajar itu harus bisa menguasai apa yang telah diajarkan. Karena karakter atau kecerdasan anak itu unik. Sehingga tak bisa dipaksakan harus mengetahui apa yang telah disampaikan.
Guru Sebagai Pementor
Menjadikan dan membuat kegiatan belajar siswa sebagai prioritas tertinggi adalah pekerjaan yang mulia bagi setiap guru. Selain mengajar, tentu seorang guru haruslah menjadi teman sekaligus pementor bagi muridnya. Hal ini membantu guru dalam memahami kekurangan ataupun permasalahan yang dialami siswanya. Berikut hal-hal yang dilakukan pementor dalam memaksimalkan potensi muridnya:
1.      Menyediakan waktu secara ikhlas untuk mempengaruhi motivasi belajar siswa
2.      Berusaha merangsang minat belajar siswa melalui berbagai metode
3.      Menanamkan keinginan pada siswa untuk belajar seumur hidup
4.      Mengilhami murid untuk mencapai tingkat intelektual yang lebih tinggi serta tidak patah semangat dalam meraihnya
5.      Membuat siswa dengan mudah memahami kepribadiannya
A.R. yang berprinsip bahwa guru tidak mesti sebagai pengajar, namun juga berperan sebagai teman atau pementor bagi muridnya. Sehingga tidak salah bila A.R. sangat disenangi oleh anak didiknya. Bahkan dalam tuturnya, A.R. sering dijadikan “teman curhat” apabila terdapat muridnya yang mengalami permasalahan. Sebagai pementor, tentu sangat bijak rasanya untuk mendengar permasalahan murid lalu memberikan solusi serta motivasi yang tentu mengarah pada proses belajar anak.
Seperti paparan sebelumnya, A.R. telah menganut prinsip pementor di poin kedua. A.R. selalu menggunakan metode pengajaran yang berbeda pada tiap babnya. Hal ini mendorong siswa untuk meningkatkan minat belajarnya.

BAB IV
KESIMPULAN
Pendidik adalah seseorang yang memiliki kemampuan dalam hal memberikan kontribusi yang bermanfaat dalam mendukung perkembangan belajar muridnya. Kognitif, emosi dan psikomotorik merupakan sebuah hal yang pendidik harus berikan kepada murid. Ini berguna dalam memberikan penambahan wawasan dalam segi kognitif, mengelolah emosi yang baik serta memiliki keterampilan psikomorik yang baik. Tiga nilai global yang akan selalu digunakan dalam mendukung murid mencapai sebuah aspek kehidupan yang baik dalam belajar.
A.R. sebagai pengajar muda yang berdedikasi dalam dunia pendidikan memiliki spirit yang unggul dalam memaksimalkan potensi muridnya. Beragam metode ia aplikasikan agar murid tidak bosan dengan pelajaran yang ia ajarkan. Salah satu hal yang patut diteladani dari seorang A.R. sebagai pengajar adalah rasa cinta terhadap keunikan karakteristik masing-masing muridnya. Sehingga ia mencoba bagaimana memaksimalkan segala potensi yang dimiliki siswa pada beragam metode pengajarannya.
Sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memenuhi kebutuhan para pengajar. Sehingga tidak ada lagi pengajar yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai tukang becak akibat minimnya upah ngajar yang didapat dari pemerintah. Kalau kebutuhan dasar para pengajar sudah berada di level seharusnya, tentu guru lebih fokus dalam mengembangkan bahan ajarannya kepada murid-murid. Hal ini agar A.R.-A.R. baru memiliki semangat dalam mendidik anak-anak sekolah yang masih haus dalam menuntut ilmu.

BAB V
TESTIMONI DAN SARAN
Testimoni
Menjadi hal yang luar biasa ketika mewawancarai seorang guru yang berjasa melahirkan calon-calon intelek pemimpin bangsa. Bagaimana tidak, ketika masih berada di bangku sekolah, saya sangat membenci guru matematika. Kebencian saya pada matematika, otomatis juga membuat saya benci pada guru yang mengajarnya. Kali ini, saya berkesempatan mewawancarai seorang guru yang kebetulan mengajar matematika. Ini menjadi sebuah kebetulan yang membuka pikiran saya bahwa kebencian saya pada guru matematika adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidup saya. Para guru matematika tentu memberikan metode yang terbaik bagi muridnya dan berusaha memahami ketidakfahaman muridnya. Sedangkan saya selalu membenci setiap metode yang disampaikan guru matematika.
Tentu saja tugas ini membuka pikiran dan mata hati saya agar lebih memahami peran dan jasa seorang guru matematika yang selalu memberikan cara terbaik bagi muridnya walau sebagian murid membencinya. Maafkan saya yang telah membencimu duhai Bapak/Ibu guru matematika yang telah memberi pemahaman tentang ketulusan mengajar yang tak bisa dikalkulasikan oleh angka.
Saran
            Saran bagi siswa:
1.      Bila engkau membenci suatu pelajaran, janganlah juga membenci pengajarnya;
2.      Maksimalkan segala potensi yang dimiliki dalam menunjang pelajaran;
3.      Bertobatlah dalam mengejek orang yang mengharapkanmu menjadi pemimpin dunia setelah engkau tamat dari pelajarannya.
Saran bagi pengajar:
1.    Tetap memberikan yang terbaik bagi anak didik walau mereka memperolok-olok. Kelak ketika sukses, mereka tahu siapa orang yang harus dijumpai setelah orangtua mereka;
2.    Berilah program-program ajaran yang menarik dalam mendorong minat siswa mengikuti pelajaran;
3.    Selain sebagai pengajar, libatkan diri sebagai teman murid. Hal ini membuat murid merasa nyaman berada dekat dengan guru. Sehingga tak ada lagi istilah “guru killer”.

DAFTAR PUSTAKA
Danim, S. & Khairil. 2010. Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung : Alfabeta

0 komentar: